Breaking News

Sikap Kurang Santun Di Tunjukan Oleh Prabowo Di Depan Ulama PA 212

Sikap Kurang Santun Di Tunjukan Oleh Prabowo Di Depan Ulama PA 212
Berita mengejutkan datang dari Usamah Hisyam, Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Permusi). Setelah memilih mundur dari Persaudaraan Alumni 212, Usamah membeberkan amarah Prabowo Subianto di hadapan 28 ulama saat rapat menjelang Ijtima Ulama I.

Rapat itu diselenggarakan sebelum Ijtima Ulama I pada 16 September 2018. Saat itu, Dewan Penasihat Alumni 212 mengadakan rapat di Hotel Sultan, Jakarta. Sejatinya, rapat ini digelar untuk memutuskan siapa calon presiden yang bakal disodorkan dan diumumkan di forum Ijtima Ulama.

Usamah menyatakan, Prabowo masuk ke ruangan rapat pada pukul 19.30 setelah acara kembali dimulai usai istirahat salat dan makan. Prabowo didampingi beberapa sekretaris jenderal partai, di antaranya Ahmad Muzani (Gerindra), Eddy Suparno (PAN), dan Afriansyah Ferry Noor (PBB).

Rapat kembali dibuka oleh Ketua Dewan Penasihat PA 212 Amien Rais. Mantan Ketua Umum PAN ini pun mempersilakan Prabowo menyampaikan apa yang akan ia perjuangkan bila didukung PA 212.

Secara mengejutkan, ujar Usamah, pembukaan Prabowo malah di luar ekspektasi. Nada bicara Prabowo tinggi dan kencang, amarah Prabowo meletup. Capres nomor urut 02 ini malah membuka pembicaraan dengan memprotes pihak yang meragukan keislamannya, termasuk ibadah, kemampuan mengaji, dan kemampuan menjadi imam.

“Yang sangat mengejutkan, ia berbicara sambil meninju keras meja rapat di depannya, sampai lima kali tinju, sehingga para ulama dan tokoh-tokoh yang hadir terperangah. Suasana menjadi tegang,” kata Usamah.

Prabowo di dalam rapat tersebut duduk di tengah para ulama. Di sebelah kiri Prabowo adalah Amin Rais dan Ketua Dewan Syuro Front Pembela Islam (FPI) KH Misbachul Anam. Sebelah kanan, ada KH Muhammad Maksum, pendiri Pondok Pesantren Al ishlah Bondowoso.

“Ada 28 ulama yang hadir, lihat semua,” imbuh Usamah, seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Kamis (20/12).

Malam itu, imbuh Usamah, presentasi dimulai dari pukul 19.30 hingga 22.00. setelah marah-marah, Prabowo baru melanjutkan program kerja bila terpilih menjadi presiden. “Presentasinya dibuka dengan kemarahan itu,” Usamah memperjelas.

Nah, menariknya, tak ada pembahasan calon presiden lagi usai Prabowo memaparkan programnya yang dibuka dengan amarah. Tidak ada musyawarah dan ada voting. Rapat tersebut seakan-akan menjadi legitimasi PA 212 untuk menyorongkan Prabowo di Pilpres 2019 hanya karena amarah Prabowo.

“Tak ada lagi musyawarah, apalagi voting. Saya juga tak bisa berbuat apapun lagi. Kecuali terpekur, bagaimana bila suasana rapat kabinet seperti itu? Wallahu a’lam,” tulis Usamah.

Seminggu selepas rapat tersebut, Ijtima Ulama I langsung merekomendasikan Prabowo sebagai capres. Beberapa ulama tak diundang, khususnya yang tak setuju dengan pencalonan Prabowo. Salah satunya Usamah sendiri.

“Berdasarkan pengalaman dan argumentasi prinsipil itulah, saya tak ingin ikut bertanggung jawab di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala atas pencalonan Prabowo Subianto sebagai capres dengan baju ijtima’ ulama,” kata Usamah.

No comments