Breaking News

Setiap Negara Tidak Mungkin Bebas Utang, Indonesia Masih Aman



Ketua Umum PPP Romahurmuziy memberikan pandangannya terkait utang Indonesia yang dinilai sejumlah pihak terutama oposisi terlalu besar, pada bulan Februari 2018 utang Indonesia telah mencapai Rp. 4.034,8 triliun.

Romy menyampaikan setiap negara tidak bisa lepas dari utang termasuk Indonesia, hal itu menjadi sangat wajar asalkan digunakan untuk kegiatan yang produktif. Di dalam UU Keuangan Negara No.13 Tahun 2003 pun dijelaskan batasan antara utang pemerintah yang aman maksimal 60% terhadap PDB.
Romy juga menambahkan saat ini utang pemerintah masih 29,2% terhadap PDB, masih jauh di bawah batas maksimum, seharusnya perdebatan soal utang tidak perlu dibuat gaduh.

Selama era Pemerintahan Jokowi utang tersebut digunakan untuk pembangunan ekonomi. Hal ini dapat kita lihat ada kenaikan pada belanja infrastruktur dari Rp. 290 triliun di tahun 2015 menjadi Rp. 410 triliun di 2018.

Dengan pembangunan infrastruktur yang masif, terutama untuk menekan ketimpangan pembangunan dimasa lampau, kini masyarakat dapat merasakan langsung dampak dari kebijakan yang sudah dilakukan oleh Presiden Jokowi.

Selain itu, ada kritik yang menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tak sejalan dengan naiknya hutang bahkan cenderung meningkat hingga 14% di tahun 2017, tapi ekonomi hanya tumbuh 5,07%. Kemudian dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam yang masing-masing tumbuh 5,8% dan 6,8%.

Menurut Romy, ini merupakan perbandingan yang jelas tidak sama jika hanya dibandingkan dengan negara tetangga. Skala ekonomi Indonesia yang begitu besar seharusnya dibandingkan dengan negara yang termasuk G20.

Indonesia ada peringkat no.3 pertumbuhan yang paling tinggi, dibawah China 6,9% dan India 6,7% tahun 2017. Kita patut bangga bisa tumbuh 5% meskipun belum optimal," ungkap Rommy.

Jadi kesimpulannya, tegas dia Pemerintah masih on the track menggunakan utang untuk pembangunan infrastruktur. Utang di era Presiden Jokowi, ujar dia dikelola secara profesional dan hati-hati.

"Tantangan kedepannya adalah menurunkan laju inflasi sehingga bunga utang makin murah. Langkah yang penting lainnya yakni meningkatkan fundamental ekonomi agar rating utang bisa melesat menjadi AAA dari saat ini BBB-. Jika rating utang semakin baik, dan dampak pembangunan infrastruktur kedepannya dirasakan oleh masyarakat luas, kegaduhan soal utang ini akan ditinggalkan," ungkapnya

No comments